Indonesia Terapkan Teknologi 5G pada 2020

5g

Teknologi telekomunikasi generasi keempat (4G) Long Term Evolution (LTE) baru setahun menggema di Tanah Air. Kini muncul teknologi generasi kelima (5G) dan diperkirakan mulai diimplementasikan di Indonesia pada 2020. Di Indonesia, teknologi 5G ini mulai diperkenalkan. Vendor perangkat telekomunikasi dari Tiongkok, ZTE, Kamis (19/11), mengundang Menkominfo Rudiantara, Ketua Masyarakat Telematika (Mastel) Kristiono untuk berdiskusi tentang tema “Next Generation Broadband­5G”.

Presdir ZTE Indonesia Mei Zhonghua mengungkapkan, dibandingkan dengan jaringan 4G, teknologi generasi kelima (5G) dapat memberikan beberapa keuntungan lebih, seperti jumlah koneksi yang lebih besar, kapasitas 1000 kali lebih besar, throughput 10 kali lebih cepat, dan latency yang lebih rendah. “Selagi bersiap untuk teknologi jaringan yang baru, ZTE juga dapat memberi solusi bagaimana memaksimalkan teknologi pita lebar yang sudah ada,” kata Mei Zhonghua di Jakarta, akhir pekan lalu. ZTE, kata dia, menciptakan sebuah perangkat yang dapat meningkatkan level akses kapasitas jaringan secara menyeluruh dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah ada, yaitu Massive MIMO. Massive MIMO ini memungkinkan operator untuk memenuhi tuntutan layanan data yang sangat besar dengan situs dan spektrum yang ada. Pada simulasi pra­komersial, Massive MIMO dapat mengintegrasikan 128 antena (64 saluran independen) yang dapat menghasilkan kecepatan troughput 6 sampai 8 kali lebih besar. “Kami berharap dengan kehadiran teknologi 5G, dapat tercipta pemahaman yang mendalam mengenai teknologi 5G, tantangan yang ada, dan solusi yang dapat dilakukan untuk mempercepat penerapannya di Indonesia. Kami selalu berusaha untuk men­deliver teknologi terkini bagi masyarakat Indonesia, sehingga bisa bersaing secara global,” terang Mei. Namun, Menkominfo Rudiantara mengatakan, perkembangan dan dinamika teknologi tidak bisa dielakkan dari kehidupan manusia. Saking dinamisnya, manusia seolah­olah dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang terjadi. Di Jepang, teknologi 5G diperkirakan baru bisa diimplementasikan pada 2020. Meski demikian, sisi positif dari perkembangan teknologi itu adalah kehidupan manusia semakin dipermudah, serta turut mengangkat taraf kehidupan ekonomi yang lebih baik. Di dunia telekomunikasi, pada saat masyarakat Indonesia baru mulai menikmati euforia teknologi 4G, kini hadir sudah hadir teknologi 5G. “Perkembangan teknologi itu selalu progress. Tugas kita adalah menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada. Berbicara mengenai teknologi 5G, sebenarnya kita harus sudah mulai untuk mempelajarinya, mulai dari bisnis modelnya seperti apa, dampaknya bagi masyarakat seperti apa, dan juga benefit yang kita peroleh itu seperti apa,” kata Rudiantara di Jakarta, Kamis (19/11). Oleh karena itu, lanjut dia, 5G harus dilihat dari kacamata konsumen sebagai pemakai dan juga para pemain industri dan juga regulasi yang mengaturnya. Semua ekosistem itu harus ballancing, sehingga mampu memberikan manfaat yang berguna bagi masyarakat. Menurut Rudiantara, melihat inisiatif dari para vendor teknologi dan juga operator telekomunikasi yang terus memantau perkembangan dinamika teknologi, Menteri yang biasa disapa Chief RA tersebut optimistis, setiap perkembangan teknologi yang terjadi mampu memperoleh solusi yang tepat untuk meningkatkan kualitas dan daya saing bangsa. Perluasan pembangunan infrastruktur pita lebar mutlak diperlukan dan menjadi salah satu prioritas Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bangsa. Rudiantara menyadari bahwa dalam penerapannya akan banyak ditemukan hambatan­hambat­an, seperti luas geografis negara Indonesia, pendanaan dan peningkatan pengetahuan di dalam masyarakat akan pentingnya pemanfaatan TTK di seluruh aspek kehidupan. “Namun, kami optimistis, apabila semua ini kita jalankan secara bersama­sama,” ujar Rudiantara.

Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono mengungkapkan, tahun 2020 merupakan jangka waktu yang ideal bagi Indonesia untuk menerapkan teknologi 5G. Sebab, mulai saat ini, masyarakat, pelaku industri dan juga pemerintah diberi jangka waktu selama lima tahun untuk mempelajari teknologi 5G, bisnis model, menata regulasi, serta melakukan edukasi kepada masyarakat tentang menfaat teknologi 5G. “Walaupun saat ini kita masih di generasi keempat (4G), tetapi generasi kelima (5G) akan dimanfaatkan dalam lima tahun lagi. Itu justru pentingnya di situ. Kita jangan tunggu teknologi ini sudah mau dikomersil baru kita beli. Berarti kita akan terlambat dan kita tidak bisa mengambil peran yang signifikan,” kata Kristiono. Menurut Kristiono, operator di Indonesia harus berperan dari awal, dan secara serius mengikuti perkembangan dan langsung terlibat di dalamnya. “Kita harus memikirkan secara lebih luas. Regulasinya bagaimana? Bisnis modelnya bagaimana? Jangan hanya sebagai konsumen teknologi, apalagi hanya sebagai importir teknologi,” tutur mantan dirut PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) ini. Kristiono mengugkapkan, langkah konkret yang harus dipersiapkan dalam jangka waktu lima tahun ke depan adalah, pemerintah harus membentuk forum yang bersifat tetap. Forum itu terdiri atas pemerintah, pelaku industri, masyarakat dan juga para akademisi. Tujuannya, mempelajari, melakukan riset, serta melakukan benchmark dengan negara lain, untuk menemukan bisnis model yang tepat terkait dengan teknologi 5G ini. “Saya pikir tahun 2020 itu waktu yang tepat buat kita untuk mulai mengadospi teknologi 5G. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan mulai dari sekarang. Kita bekerja sama mulai dari pemerintah, pelaku industri dan juga masyarakat sendiri,” ungkap Kristiono.

(Investor Daily Indonesia)