Pembahasan DNI Menara Berlanjut

tower

Rencana pembukaan daftar negatif investasi atau DNI untuk menara telekomunikasi sebesar 49% belum final.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengungkapkan pihaknya akan membahas lebih lanjut bersama Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan kementerian terkait pada Januari 2016.

“Belum kami putuskan. Kami akan bahas bersama BKPM Januari 2016 dan perdagangan, semua yang berkaitan dengan DNI di bidang ini (telekomunikasi). Pembahasannya tidak lebih dari Januari termasuk untuk DNI e<ommerce” ujarnya Jumat (11/12).

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Alexander Rusli mengungkapkan pihaknya belum membicarakan perkara ini di rapat, tetapi pendapat pribadi Alex sebagai ATSI, industry Menara sudah memasuki masa saturated.

“Industri itu sudah saturated, sudah terlalu banyak pemain. Kalau sudah banyak pemain, orang asing kalau mau punya juga tidak apa­apa. Ini pendapat ketua ATSI sebelum rapat,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Alex pun menambahkan sebelum ini, industri tersebut memang diproteksi dari asing agar bisa dijalankan pemain lokal yang saat itu jumlahnya memang belum banyak. Namun, saat ini pemain sudah sangat banyak sehingga sudah tidakberpengaruh secara signifikan.

“Ini bukan resources limited, yang lokal pun sudah banyak yang tidak bisa make money lagi. Berubah atau tidak DNI, tidak ada masalah,” tambahnya.

Sebelumnya, Asosiasi Penyelenggaran Infrastruktur Mikrosel Indonesia dan Asosiasi Pengusaha Menara Telekomunikasi (Aspimtel) keberatan dengan rencana penghapusan industry tower dari DNI sejalan dengan penanam modal asing bisa masuk ke dalam industri ini. Ketua Asosiasi Penyelenggara Infrastruktur Mikrosel Indonesia Peter Djatmiko mengungkapkan industri tower adalah industri yang saat ini digarap oleh banyak sekali pengusaha local baik dari skala kecil hingga skala besar, sehingga masuknya tower provider asing dengan modal besar dapat mengancam pengusaha nasional.

“Industri tower ini adalah industri yang dalam penyelenggaraannya dihadapkan dengan local issues terkait dengan perizinan, community issue dan site acquisition, yang mana yang lebih mempunyai kompetensi dalam menghadapi masalah ini adalah tentunya pengusaha lokal,” ujarnya kepada Bisnis.

Peter pun menambahkan tidak ditemukannya nilai tambah yang dibawa oleh penyelenggara tower asing untuk industri nasional. Pasalnya, industri menara ini bukanlah industri yang menggunakan teknologi tinggi. Perubahan DNI ini dinilai akan merugikan investor yang sudah ada dan mengembangkan usaha dengan pertimbangan bahwa industri tower ini tertutup untuk pemain asing.

Selain itu, CEO PT iForte ini pun mengharapkan asing tidak mendominasi industri tower. “Tidak ada alasan kuat kenapa industri tower ini harus dibuka untuk asing karena minat dan kemampuan dari Investor local untuk mengerjakan industri inisudah cukup besar,” tambahnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Menara Telekomunikasi (Aspimtel) David Bangun juga mengungkapkan pandangannya kepada Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel). Beberapa poin yang disampaikan adalah terkait penyedia menara nasional. Saat ini kurang lebih 30 perusahaan penyedia menara nasional yang tergabung dalam Aspimtel didominasi oleh perusahaan skala UKM yang memiliki menara kurang dari 100 unit. Sebagian besar merupakan perusahaan daerah yang hanya berada di wilayah tertentu. Di samping itu, tingkat penerimaan perbankan dalam negeriuntuk proyek pembangunan menara telekomunikasi terus berkembang. Sampai saat ini total modal yang ditanam oleh penyedia menara nasional sudah lebih dari Rp60 triliun. Menanggapi sikap asosiasi, Mastel mengeluarkan ulasan terkait pelaporan tersebut. Asosiasi ini berpendapat bidang usaha menara telekomunikasi tetap tertutup untuk penanaman modal asing. Pasalnya, hal ini dilakukan agar meningkatkan industri menara telekomunikasi nasional bagi kepentingan pengguna layanan telekomunikasi Indonesia serta melindungi vendor menara tele­ komunikasi domestik agar tumbuh dan menjadi lebih besar di seluruh RI. Selain itu, terkait masalah pendanaan, penanaman modal asing salah satunya ditujukan untuk menarik investasi di bidang yang membutuhkan dukungan kapital besar dari luar. Namun saat ini, secara infrastruktur nasional, infrastruktur menara atau BTS telekomunikasi telah mencakup lebih dari 95% populasi di Indonesia melalui 80.000 menara yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Source : Bisnis Indonesia (14/12)