Transformasi Telkomsel dari Telco ke DiCo

logo telkomsel

JAKARTA­Telkomsel, operator terbesar di Tan ah Air mclakukan transformasi dengan cara memperkuat human capital perusahaan. Transformasi yang dilakukan Telkomsel juga bertujuan untuk mengantar Telkomsel dari Telecommunication Company (Telco) menjadi Digital Company (DiCo).

“Keberhasilan yang lata raih selama ini, tidak tcrlcpas dari pcran perusahaan yang membangun budaya serta orang­orangnya. Kilamelakukan transformasi dengan memperkuat people dan culture. Kami percaya dengan membangun culture dan people mampu mcinbcrikan karaktcr khusus bagi Telkomsel,” kata Direktur Human Capital Management Telkomsel Priyantono Rudito di Jakarta, Selasa malam (15/12).

Dalam format Telkomsel, perubahan itu berarti berfi’ansformasi dari Telkomsel 1.0 menjadi Telkomsel 2.0. Maksud dari huruf “0” di sini adalah Opportunity. “Inilah kesernpalan keduaTelkomsel meraih kesuksesan di industri digital setelah booming bisnis seluler beberapa waktu lalu,” ujar Priyanto.

Momen penting ini kemudian dirangkum dalam buku “Strongest by Best People: The Telkomsel Way & Transformasi Human Capital karya Direktur Human Capital Telkom Herdy Harman.

Herdy Harman sebelumnya pernah menjadi Direktur Human Capital Telkomsel. Melalui buku ini, Telkomsel maupun Telkom sebagai induk perusahaan Telkomsel ingin menegaskan pentingnya membangun budaya serta orangnya, agar perusahaan terus tumbuh. Karena hanya melalui pengembangan teknologi saja, perusahaan diklaim tidak bisa bertahan secara signifikan.

“Dengan membangun budaya serta orangnya, ini akan menjadi landasan yang kuat bagi perusahaan. Tidak cukup perusahaan hanya memperhatikan teknologinya, tetapi mengabaikan talenta­-talenta dan budaya kerja,” terang Herdy.

Ketika, disinggung mengenai ke­cenderungan karyawan atau talenta pindah perusahaan, setelah meraih kesuksesan dalam belajar,

Herdy men­gungkapkan, kemungkinan itu kecil sekali di Telkom maupun Telkomsel. Sebab. Telkom mempunyai budaya kcrja yang sangat. baik, yang membuat karyawan merasa betah dan ingin tetap menjadi karyawan.

“Tingkat turn over kecil sekali, Sela­ma ini yang terjadi mungkin hanya se­kitar 1% lebih. Karena kulturyang kita bangun selalu mcmbcrikan tcmpat yang terbaik kepada karyawan kita. Pokoknya, kalau kerja di Telkomsel itu asyik!!” tutup Herdy. Human capital dalam hal ini tal­enta-­talenta yang dimiliki oleh Telkom­sel diklaim menjadi penggerak utama dalam mempertahankan dan mening­katkan keberhasilan Telkomsel. Tak tanggung­-tanggung, Telkomsel pun menyiapkan anggaran untuk pengem­bangan human capital naik menjadi 200% pada tahun depan. Anggaran tersebut akan digunakan untuk men­girim sejumlah talenta muda untuk belajar ke luar negeri, demi pengem­bangan Telkomsel ke depannya.

Source : Investor Daily Indonesia (18/12)