Jakarta, 13 Agustus 2026 – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (“Mitratel”, IDX: MTEL), perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung penyediaan akses energi berkelanjutan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui Sistem Panel Surya (Solar Panel System). Inisiatif bertajuk “Satu Cahaya, Sejuta Harapan” tersebut merupakan hasil kolaborasi Mitratel dan Social Responsibility Center (SRC) dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, sebagai bagian dari upaya TelkomGroup menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang terukur melalui pemanfaatan infrastruktur dan kapabilitas Grup.
Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana kapabilitas TelkomGroup dapat saling melengkapi dalam menciptakan shared value, sejalan dengan arahan strategis Danantara Indonesia dan Telkom Group. Telkom melalui SRC membawa pendekatan TJSL yang berorientasi pada pemberdayaan dan dampak masyarakat, sementara Mitratel menghadirkan kompetensi di bidang infrastruktur telekomunikasi dan solusi energi. Sinergi tersebut memungkinkan program sosial tidak hanya menghadirkan manfaat jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi bagi peningkatan aktivitas ekonomi dan konektivitas masyarakat di wilayah 3T.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan bahwa akses energi yang andal dan berkelanjutan merupakan salah satu fondasi penting untuk mendorong pembangunan yang inklusif. Dengan menyediakan solusi energi bersih melalui Sistem Panel Surya, Mitratel berharap aktivitas sosial-ekonomi di wilayah 3T semakin bergerak, sehingga masyarakat dapat memiliki penghidupan yang lebih baik dan mampu meningkatkan kualitas hidup mereka.
“Kami percaya bahwa energi tidak hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk belajar, beraktivitas, dan meningkatkan kesejahteraan. Melalui program ‘Satu Cahaya, Sejuta Harapan’, kami berharap kehadiran fasilitas ini dapat menjadi katalis bagi kemajuan masyarakat sekaligus mendukung transisi menuju pemanfaatan energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan,” ujar Theodorus.
Dalam program tersebut, Mitratel membangun sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan total kapasitas terpasang sebesar 20,4 kWp di lima desa, yaitu Desa Pantai Ketikal dan Desa Limpang di Kalimantan Barat, serta Desa Honuk, Desa Haju Wangi, dan Desa Golo Lijun di Nusa Tenggara Timur. Di kelima desa tersebut, akses energi bersih dinikmati oleh 149 rumah tangga dan tersedia untuk 29 fasilitas publik, yakni sekolah, PAUD, gereja, masjid, posyandu, lampu jalan, kantor desa, dan poskedes.
Mayarakat di kelima desa penerima manfaat tersebut kini dapat menikmati penerangan setiap hari mulai pukul 18.00-22.00. Kehadiran penerangan tersebut menghadirkan perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat, mulai dari membantu anak-anak belajar pada malam hari, meningkatkan produktivitas masyarakat termasuk untuk mendukung persiapan kegiatan pertanian, hingga mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas umum dan aktivitas sosial masyarakat.
Selain memberikan manfaat berupa akses energi bersih, program ini juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pelibatan langsung warga dalam proses instalasi PLTS dan pelatihan teknis untuk pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas. Dengan pendekatan tersebut, warga setempat diharapkan dapat mengelola dan menjaga keberlanjutan sistem penerangan secara mandiri dalam jangka panjang.
Adapun dampak positif program ini bagi Mitratel tercermin dari potensi pertumbuhan bisnis di masa depan. Desa-desa yang teraliri listrik dan jaringan telekomunikasi dapat menjadi pasar baru bagi operator seluler, yang otomatis akan meningkatkan potensi permintaan terhadap layanan menara Mitratel maupun bisnis tambahannya, contohnya yakni Power-as-a-Service (PaaS) yang menawarkan tingkat efisiensi yang lebih tinggi di biaya energi bagi pelanggan dibandingkan penggunaan genset konvensional.
Dampak kuantitatif dari program ini tercermin dari hasil pengukuran Social Return on Investment (SROI) sebesar 3x-3,3x, yang dihitung dari sisi produkivitas SPS sebesar 23.915 kWh dalam satu tahun (Direct Impact), penambahan produktivitas di malam hari (Immediate Impact), dan pembangunan sumber daya manusia di desa melalui pelatihan PLTS dengan menggunakan rata-rata upah teknisi dari data Badan Pusat Statistik (Ultimate Impact). Sebagai gambaran, melalui pengukuran Ultimate Impact, diperkirakan terdapat penambahan upah sebesar 20%dalam periode 1-3 tahun mendatang dari rata-rata upah saat ini.
Melalui inisiatif ini, Mitratel sebagai perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi digital terbesar di Indonesia memperkuat integrasi prinsip-prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance) dalam operasional bisnisnya. Dengan turut berperan dalam menghadirkan pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi terbarukan, Mitratel mendukung agenda pemerintah dalam transisi energi dan pengurangan emisi karbon, sekaligus mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) terkait akses energi bersih dan terjangkau bagi seluruh masyarakat serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

