CAGR Mitratel Tumbuh Dua Digit, Melampaui Industri
JAKARTA – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau “Mitratel” mencatatkan tingkat rata-rata pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR) melonjak dua digit pada periode 2017-2022 jauh melampaui CAGR-nya emiten menara telekomunikasi lainnya. Analis merekomendasikan beli saham Mitratel lantaran kinerja finansialnya berpotensi tumbuh di periode mendatang ditambah manajemen Mitratel pun telah berancang-ancang memberikan dividen lebih tinggi dalam RUPS Tahunan 2022.
Theodorus Ardi Hartoko, Direktur Utama Mitratel menjelaskan dengan pertumbuhan CAGR dua digit ini mengindikasikan kinerja finansial Mitratel tumbuh secara berkesinambungan serta menjadi landasan yang kokoh untuk menunjang pertumbuhan bisnis perseroran di masa mendatang.
“Kami terus mendorong monetisasi aset dalam mengakselerasi pertumbuhan berkelanjutan yang didukung oleh menara yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk dari hasil akuisisi. Kami juga berinovasi dalam pengembangan ekosistem bisnis menara, termasuk diantaranya fiber optic yang akan menciptakan model bisnis yang berkesinambungan di era digital. Kami optimistis kinerja ke depan akan lebih baik,” ujar Theodorus Ardi Hartoko kepada wartawan di Jakarta pada Senin (10/4/2023).
Teddy sapaan akrabnya menjabarkan Mitratel juga membukukan CAGR EBITDA sebesar 27%. Raihan perseroan ini diakui lebih tinggi dari CAGR EBITDA rata-rata industri. “Pertumbuhan CAGR Mitratel melonjak dua digit lantaran Perseroan berhasil meningkatkan kinerja finansial yang optimal,” sebut Teddy.
Ia kembali menyatakan Mitratel pada tahun ini telah mencanangkan roadmap pertumbuhan organik dan inorganik dengan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 7 triliun untuk mendukung tranformasi digital serta mengembangkan ekosistem bisnis Menara dengan menambah jumlah Menara telekomunikasi, membangun fiber optic dan infrastruktur pendukung lainnya yang berpotensi ke depan meningkatkan pendapatan dan laba bersih perseroan.
Valuasi Lebih Murah
Pada kesempatan berbeda, Robertus Hardy, Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan saham infrastruktur telekomunikasi merupakan saham yang prospektif di tahun ini karena menyongsong masa pemilihan umum pada 2024. Hal ini diproyeksikan berdampak terhadap lonjakan lalu lintas data.
Selain itu, kinerja emiten infrastruktur telekomunikasi didukung adopsi teknologi 5G yang diharapkan lebih luas, penetrasi fixed broadband, dan persaingan penyedia layanan telekomunikasi untuk meningkatkan kualitas pelayanannya. “Dengan demikian, kami menginisiasi industri ini dengan peringkat Overweight dengan MTEL sebagai pilihan utama. Selain neraca yang relatif lebih sehat dengan hanya 33,0% net gearing per Desember 2022 jika dibandingkan TOWR dan TBIG yang masing-masing 309,5% dan 224,3%,” tutur Robertus dalam risetnya.
Oleh karena itu, lanjut Robertus, MTEL tidak hanya memiliki peluang untuk membayar dividen yang lebih tinggi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membelanjakan lebih banyak anggaran Capex belanja modal untuk meningkatkan jumlah aset menara, melalui build-to-suite maupun akuisisi.
Aset MTEL memiliki valuasi yang murah, yaitu rasio enterprise value (EV)/tower per Desember 2022 itu senilai Rp2 miliar. “Ini lebih dari 35% diskon dari TOWR dan TBIG yang EV/tower masing-masing sebesar Rp3,1 miliar dan Rp3,3 miliar,” ucap Robertus.
Kemudian, Mitratel tidak memiliki eksposur risiko fluktuasi mata uang asing lantaran seluruh pinjaman dalam denominasi rupiah. Utang perseroan di tahun lalu itu turun menjadi Rp 15,29 triliun dari Rp 18,07 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) pada 2022 turun menjadi 0,45 kali dari sebelumnya 0,54 kali. Dengan demikian, Mitratel memiliki ruang yang cukup longgar untuk berekspansi karena DER-nya semakin turun dan ekuitasnya di tahun lalu naik sebesar 0,5% atau menjadi Rp 33,80 triliun.
Perseroan optimistis prospek bisnis di tahun 2023 akan tetap mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata industri, hal ini berdasarkan strategi dan model bisnis Mitratel yang solid, dengan didukung oleh pertumbuhan organik seperti peningkatan kolokasi (tenancy ratio), dan dibarengi aksi organik serta inorganik untuk memacu Mitratel untuk mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih.
Menurut data, CAGR pendapatan Mitratel pada 2017-2022 melonjak sebesar Rp 14%. Kemudian, CAGR laba bersih Mitratel melonjak sebesar 34% atau melampaui CAGR laba bersih TOWR dan TBIG di periode 2017-2022 itu, yang masing-masing sebesar 10% dan minus 6%.
Ke depannya, beberapa langkah strategis akan terus dilakukan MTEL. Perusahaan akan fokus untuk memberikan solusi dari hulu ke hilir kepada pelanggan seperti layanan fiber to the tower, power to the tower, dan energy as a service. MTEL diyakini agresif untuk memonetisasi aset menara telekomunikasi, “Kami menyukai Mitratel karena posisinya sebagai pemimpin di sektor menara telekomunikasi dengan kepemilikan tower sebanyak 35.418 yang dikelola per Desember 2022,” tutur Robertus.
Per data Desember 2022, Indonesia memiliki 127,8 pengguna seluler per 100 penduduk. Dengan lebih banyak dari populasi 275 juta orang per September 2022, Indonesia adalah negara terbesar keempat di dunia setelah India (1,42 miliar), Cina (1,41 miliar), dan AS (333 juta). Oleh karena itu, potensi pasar yang sangat besar ini berhasil menarik beberapa perusahaan penyedia menara telekomunikasi besar untuk berinvestasi agar memperkuat pangsa pasar di segmen ini. (*)
Mitratel Will Deploy 25 Thousand Fiber Optic, Ready to Support Operators to Expand 5G in Indonesia
JAKARTA, Tuesday (4/4/2023) – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) or Mitratel has launched a roadmap for organic and inorganic growth that will impact fundamental performance while supporting digital transformation in Indonesia. In 2023, Mitratel plans to develop the tower business ecosystem by increasing the number of telecommunications towers, building fiber optics and other supporting infrastructure, which will multiply revenue and net profit in the coming period.
By the end of 2022, Mitratel has 35,418 telecommunications towers, reinforcing its position as the leading tower provider in Southeast Asia. To further strengthen its business fundamentals, the company has capital expenditure (capex) of IDR 7 trillion in 2023. This allotment is aimed to both support organic and inorganic business development strategies, such as the acquisition of telecommunications towers and fiber optics. “Mitratel is ready to execute its business strategies and optimize various business opportunities in 2023, particularly the monetization tower assets spread throughout Indonesia. We also prepared a new business model–Fiber to the Tower and Power to the Tower–which provides value-added services to our telecommunications operators’ customers,” stated Theodorus Ardi Hartoko, President Director of Mitratel in Jakarta, Tuesday (4/4/ 2023).
Mitratel is confident in its ability to maintain its market position in the telecommunications tower industry, after the company controls a market share of around 40% in 2022. “The demand for telecommunications towers in Indonesia remains significant, with an average of a single telecommunications tower in Indonesia covering 2,700 people, surpassing the neighboring countries such as Malaysia and Thailand. Hence, this suggests the necessity for more towers to expand the cellular networks and services by telecommunications operators,” said Teddy.
The company has also anticipated telecommunication operators (Mobile Network Operators/MNOs) to expand their 5G services. The company forecasts 5G penetration in 2025 at 27.2%, surpassing the estimated 13.4% potential 5G penetration in 2024. “We possess the largest number of towers in Indonesia, strategically located across Indonesia. Specifically, 58% of the towers are located outside Java Island and 42% are on Java Island. Moreover, we have 16,641 km of fiber optics,” said Teddy.
Prior to the conclusion of 2024, the company succeeded to build 25,000 km of fiber optic from MNO or 30% of MNO’s total fiber roll out in 2022. This underscores the company’s reputation as a trusted independent provider of digital infrastructure solutions (Digital InfraCo) which has the most significant number of telecommunications towers equipped with other digital supporting solutions, such as fiber optic.
Growing Above the Industry
On a separate occasion, Niko Margaronis, research analyst at PT BRI Danareksa Sekuritas, revealed that Mitratel’s revenue in 2023 has the potential to grow by around 11-12%. “After the IPO, Mitratel has become more professional and independent. Apart from Telkomsel, Mitratel has established business partnerships with other telecommunications operators, namely XL, Indosat Hutchison, and Smartfren.
“Mitratel continues to strengthen its reputation, resulting in the possibility of its revenue to grow by around 11% to 12% in 2023,” said Niko.
MTEL’s powerful presence is proven by the numbers of MTEL’s tower assets located outside Java reaching 58%, surpassing TOWR and TBIG’s 39% and 41% respectively. This signifies MTEL’s potential to be more appealing for telecommunications operators expanding their respective networks.
In the 2022 performance, it was recorded that Mitratel’s revenue in 2022 grew 12.5% or to IDR 7.72 trillion from IDR 6.87 trillion in 2021. In this period, Mitratel’s net profit was IDR 1.78 trillion or increase 29.3% compared to IDR 1.38 trillion, while EBITDA increased by 18.5%, to IDR 6.14 trillion from IDR 5.18 trillion. This is evident through Mitratel’s performance which has demonstrated rapid growth and the ownership of the largest number of towers in the industry, 35,418 sites, compared to TOWR with 29,794 sites and TBIG towers with 21,758 sites.
Niko mentioned several factors driving Mitratel’s business growth, including generating revenue from asset monetization resulting from tower and fiber optic acquisitions, as well as leasing collocation towers outside Java. Nico observed that Mitratel’s capital expenditure allocation, which is worth IDR 7 trillion, will be used to financing organic business plans. The portion is 60% of the total capex. Then, around 40% of Mitratel’s capex will be used to fund the acquisition of telecommunications towers and fiber optics. “The funds from the IPO and Mitratel’s healthy cash flow will encourage Mitratel’s fundamental performance to increase revenue and optimize new sources of income this year,” said Niko.
BRI Danareksa Sekuritas stated that Mitratel’s business scale and number of towers are more dominant than other telecommunications tower issuers. Market players believe that Mitratel’s fundamental performance has a significant impact on Mitratel’s stock price. “We anticipate Mitratel’s stock price to range from IDR 930 to IDR 950 by the end of 2023,” added Niko.
Mitratel akan menggelar 25 ribu fiber optic, siap mendukung operator perluas 5G di Indonesia
JAKARTA, Selasa (4/4/2023) – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mencanangkan peta jalan (roadmap) pertumbuhan organik dan inorganik yang berdampak terhadap kinerja fundamental sekaligus mendukung transformasi digital di Indonesia. Mitratel pada 2023 berencana mengembangkan ekosistem bisnis menara dengan menambah jumlah menara telekomunikasi, membangun fiber optic, serta infrastruktur pendukung lainnya, yang akan meningkatkan pendapatan dan laba bersih di periode mendatang.
Hingga akhir tahun 2022, Mitratel memiliki 35.418 menara telekomunikasi sehingga Mitratel tercatat sebagai perusahaan yang memiliki menara terbanyak di Asia Tenggara. Untuk semakin memperkuat fundamental bisnisnya, Perseroan menganggarkan belanja modal (capital
expenditure/capex) di tahun 2023 ini senilai 7 Triliun Rupiah untuk menunjang rencana pengembangan usaha organik dan inorganik, seperti akuisisi menara telekomunikasi dan fiber optic. “Mitratel siap merealisasikan rencana bisnis dan mengoptimalkan berbagai peluang bisnis di tahun 2023, yakni memonetisasi aset menara yang tersebar di berbagai lokasi strategis di seluruh Indonesia. Kami juga telah menyiapkan model bisnis terbaru, yaitu Fiber to the Tower dan Power to the Tower, yang memberikan layanan bernilai tambah kepada operator telekomunikasi yang menjadi pelanggan Mitratel,” ujar Theodorus Ardi Hartoko, Direktur Utama Mitratel di Jakarta, Selasa (4/4/2023).
Mitratel optimistis menjaga pangsa pasar di industri menara telekomunikasi, setelah perseroan menguasai pangsa pasar sekitar 40% di tahun 2022. “Kebutuhan akan menara telekomunikasi di Indonesia masih tinggi, karena secara rata-rata 1 menara telekomunikasi di Indonesia menjangkau populasi sebanyak 2.700 jiwa, atau lebih tinggi dari negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, sehingga hal ini mengisyaratkan bahwa dibutuhkan lebih banyak menara bagi operator telekomunikasi untuk memperluas jaringan dan layanan selulernya,” tutur Teddy.
Perseroan juga telah bersiap apabila operator telekomunikasi (mobile network operator/MNO) berekspansi untuk memperluas layanan 5G. Perseroan memproyeksikan penetrasi 5G pada 2025 sebesar 27,2%, lebih tinggi dari potensi penetrasi 5G dibanding 2024 sebesar 13,4%. “Kami memiliki menara terbanyak di Indonesia dan lokasinya tersebar di seluruh Indonesia, yakni 58% menara tersebar di luar Pulau Jawa dan yang 42% di Pulau Jawa serta memiliki fiber optic sepanjang 16.641 km,” sebut Teddy.
Hingga akhir tahun 2022, Perseroan berhasil mendapatkan pesanan (order) untuk membangun 25 ribu km fiber optic dari MNO atau 30% dari total fiber roll out MNO di tahun 2022. Hal ini menegaskan perseroan telah dipercaya sebagai penyedia solusi infrastruktur digital (Digital InfraCo) independen yang memiliki menara telekomunikasi terbanyak yang dilengkapi solusi pendukung digital lainnya, yakni fiber optic.
Tumbuh di Atas Industri
Pada kesempatan terpisah, Niko Margaronis, research analyst PT BRI Danareksa Sekuritas, menjabarkan pendapatan Mitratel di tahun 2023 ini berpotensi tumbuh sekitar 11-12%. “Pasca IPO, Mitratel semakin profesional dan independen. Selain Telkomsel, operator telekomunikasi lainnya, yakni XL, Indosat Hutchison, dan Smartfren melakukan kemitraan bisnis dengan Mitratel.
Kepercayaan konsumen semakin tinggi kepada Mitratel sehingga pendapatannya berpeluang tumbuh sekitar 11% hingga 12% di tahun 2023,” ujar Niko.
Kehadiran MTEL yang kuat yakni 58 % aset menara MTEL terletak di luar Jawa, dibandingkan TOWR dan TBIG masing-masing 39 % dan 41 %, berpotensi membuat MTEL lebih menarik bagi operator telekomunikasi untuk memperluas jaringannya masing-masing.
Dalam kinerja 2022 tercatat pendapatan Mitratel pada tahun 2022 tumbuh 12,5% atau menjadi Rp7,72 triliun dari Rp6,87 triliun di tahun 2021. Pada periode ini, laba bersih Mitratel senilai Rp1,78 triliun atau melonjak sebesar 29,3% dibandingkan Rp 1,38 triliun, sedangkan EBITDA naik sebesar 18,5%, menjadi Rp6,14 triliun dari Rp5,18 triliun. Hal ini terlihat kinerja Mitratel dan tercatat tumbuh cepat dan kepemilikan Menara terbanyak di atas industri sebanyak 35.418 site dibanding TOWR sebanyak 29.794 site dan jumlah tower TBIG sebanyak 21.758 site.
Niko menyebutkan sejumlah faktor pendorong pertumbuhan bisnis Mitratel, antara lain memperoleh pendapatan dari monetisasi aset yang berasal dari akuisi tower dan fiber optic, serta penyewaan menara kolokasi di luar Pulau Jawa. Nico mencermati alokasi belanja modal Mitratel yang senilai 7 triliun Rupiah itu akan digunakan untuk membiayai rencana bisnis organik. Porsinya sebesar 60% dari jumlah total capex. Kemudian, sekitar 40% dari capex Mitratel ini akan digunakan untuk mendanai akuisi menara telekomunikasi dan fiber optic. “Dana hasil IPO dan arus kas Mitratel yang sehat akan mendorong kinerja fundamental Mitratel untuk meningkatkan pendapatan dan mengoptimalkan sumber pendapatan baru di tahun ini,” ucap Niko.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan skala bisnis dan jumlah tower Mitratel lebih dominan dibandingkan emiten menara telekomunikasi lainnya. Kinerja fundamental Mitratel diyakini pelaku pasar berdampak terhadap harga saham Mitratel. ”Kami memproyeksikan harga saham Mitratel hingga akhir tahun 2023 di rentang Rp930 – Rp950,” imbuh Niko. (*)
ASPIMTEL is Committed to Improving the Quality of Telecommunication Tower Network Infrastructure as the Foundation of the National Digital Economy
The Association of Telecommunications Infrastructure and Tower Developers (“ASPIMTEL”) held a National Conference (MUNAS) on March 15, 2023. Theodorus Ardi Hartoko, who is familiarly called Teddy Hartoko, was elected as General Chair of ASPIMTEL for the 2023-2026 period. The National Conference which was held in Bali took the theme “Optimizing the Role of the Infrastructure & Telecommunication Tower Industry in the Digital & 5G Era.” This is in line with ASPIMTEL’s vision and mission which is to help develop and accelerate the achievement of the digital and 5G era.
As stated by the President of the Republic of Indonesia, Mr. Joko Widodo, the development of Indonesia’s digital economy and industry 4.0 is the fastest in Southeast Asia and will be a strength for Indonesia to realize its vision. The digital economy in Indonesia and Industry 4.0 are estimated to contribute to Indonesia’s Gross Domestic Product (GDP) reaching USD 133 billion in 2025. This industrial progress will lead Indonesia to reach the top ten global economic powers by 2030.
The optimization of digital economic transformation is essential because it serves as a catalyst of economic growth in Indonesia. Indonesia’s digital economy is projected to expand 20% from 2021 to reach USD 146 billion by 2025 and is predicted to continue to increase (Ministry of Finance, 2022). Currently, the contribution of Indonesia’s digital economy is still relatively small to the national economy, but its rapid growth is evident.
To support this objective and make Indonesia a significant player in the global digital economy, the government needs to refine national infrastructure development policies. This entails not only the development of land and sea infrastructure, but the infrastructure supporting digital economic activities also needs support from the government. This was marked by the enactment of an omnibus law known as the Job Creation Law.
The advent of telecommunications towers has unwittingly contributed to meeting the need for cellular data services and ensuring connectivity as the keyelement in digital economic activities. Telecommunication towers are the fundamental requirement to ensure that the signals emitted by Base Transceiver Station (BTS) devices can reach the widest possible community.
Teddy Hartoko, the newly inaugurated General Chair of ASPIMTEL for the 2023-2026 term at the ASPIMTEL National Conference on March 15 2023, emphasized that Indonesia has significant potential in fostering the digital economy. This potential is evident in the rapid growth of data service usage. The existence of telecommunications towers is equally substantial in establishing connectivity for other digital economies, such as toll roads, electricity substations, and other vital infrastructure, particularly in preparing the 5G era. To support the acceleration of 5G implementation in Indonesia, apart from spectrum readiness, mobile operators and devices, telecommunications towers are an inseparable part of the 5G ecosystem. Therefore, the presence of telecommunications towers signifies a crucial milestone in terms of adopting 5G technology and encouraging improvements in quality, productivity, and automation in industrial operations. What’s more, it serves a substantial role in navigating the government’s initiative namely Making Indonesia 4.0 to success.
On the same occasion afterwards, Rudolf Nainggolan, serving as President Director of PT. Gihon Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Gihon), was appointed as Deputy General Chair. Meanwhile, Indra Gunawan serves as Director of PT. Sarana Menara Nusantara, Tbk. (Protelindo) as Secretary General.
Teddy Hartoko, who currently also serves as President Director of PT. Dayamitra Telecommunications, Tbk. (Mitratel) is committed to bringing ASPIMTEL play an influential role in supporting the central and regional governments in the establishment of telecommunications tower infrastructure through 3 aspects.
The first is the business aspect, Infrastructure Providers, especially towers, must immediately transform into digital infrastructure providers or beyond tower providers. This will develop the telecommunications infrastructure industry in Indonesia in a sustainable manner.
Second is the regulatory aspect, ASPIMTEL is committed to coordinating and communicating with the Central and Regional Governments in overseeing the progress of infrastructure and telecommunications towers. The goal is for the government to design straightforward regulations that can be implemented and disseminated across the entire community, emphasizing the importance of telecommunications towers in fostering the growth of the digital economic industry in all regions of Indonesia.
Third is the environmental aspect, development and establishment of infrastructure must give positive contributions on environmental sustainability, including the use of technology to reduce carbon emissions (green energy) and the use of environmentally friendly materials to promote sustainable growth.
“The ASPIMTEL program in the future must be able to fulfill the 3 aspects above to bolster the growth of the digital economy industry efficiently and evenly throughout Indonesia”.
ASPIMTEL Berkomitmen Meningkatkan Kualiatas Infrastruktur Jaringan Menara Telekomunikasi sebagai Landasan Ekonomi Digital Nasional.
Asosiasi Pengembang Infrastruktur dan Menara Telekomunikasi (“ASPIMTEL”) melaksanakan Musyawarah Nasional (MUNAS) tanggal 15 Maret 2023. Theodorus Ardi Hartoko yang akrab disapa Teddy Hartoko terpilih sebagai Ketua Umum ASPIMTEL periode 2023-2026. Munas yang diselenggarakan di Bali tersebut mengambil tema Optimalisasi Peran Industri Infrastruktur & Menara Telekomunikasi Pada Era Digital & 5G”. Hal ini sejalan dengan salah visi dan misi ASPIMTEL yaitu ikut menumbuh kembangkan percepatan pencapaian era digital dan 5G.
Seperti yang telah disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo, dimana perkembangan ekonomi digital dan industri 4.0 Indonesia merupakan yang tercepat di Asia Tenggara dan akan menjadi kekuatan tersendiri bagi Indonesia untuk mewujudkan visinya. Ekonomi digital di Indonesia dan Industri 4.0 diperkirakan akan berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 133 miliar dollar AS pada tahun 2025. Kemajuan industri tersebut akan mengantarkan Indonesia menuju sepuluh besar kekuatan ekonomi global pada tahun 2030.
Transformasi ekonomi digital perlu dioptimalkan karena menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan tumbuh 20 persen dari tahun 2021 menjadi USD146 miliar pada tahun 2025 dan diprediksi akan terus meningkat (Kemenkeu, 2022). Saat ini, kontribusi ekonomi digital Indonesia masih relatif kecil terhadap perekonomian nasional, namun pertumbuhannya sangat pesat.
Untuk mendukung hal tersebut dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital besar yang diperhitungkan di pasar global, pemerintah perlu melakukan penyesuaian kebijakan pembangunan infrastruktur nasional. Tidak hanya pembangunan infrastruktur darat dan laut, namun infrastruktur pendukung aktivitas ekonomi digital juga perlu dukungan dari pemerintah. Ini ditandai dengan diterbitkannya omnibus law dalam bentuk Undang-undang Cipta Kerja.
Kehadiran menara telekomunikasi tanpa disadari telah berjasa dalam memenuhi kebutuhan layanan data selular dan menjamin adanya konektivitas sebagai unsur utama dalam kegiatan ekonomi digital. Menara telekomunikasi menjadi syarat utama agar sinyal yang dipancarkan perangkat Base Transceiver Station (BTS) dapat menjangkau masyarakat seluas-luasnya.
Theodorus Ardi Hartoko, Ketua Umum ASPIMTEL terpilih periode 2023-2026 yang baru saja dilantik dalam Munas ASPIMTEL tanggal 15 Maret 2023 menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan ekonomi digital dilihat dari jumlah penggunaan layanan data yang terus berkembang pesat. Keberadaan menara telekomunikasi sama pentingnya dalam membangun konektivitas bagi ekonomi digital lainna seperti jalan tol, gardu listrik, atau infrastruktur vital lainnya, terlebih dalam menghadapi era 5G. Untuk mendukung adanya percepatan implementasi 5G di Indonesia, selain kesiapan spektrum, Operator Seluler dan device, menara telekomunikasi menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari ecosystem 5G tersebut. Oleh karena itu, keberadaan menara telekomunikasi menjadi salah satu milestone penting dalam hal adopsi teknologi 5G dan mendorong adanya peningkatan kualitas, produktivitas serta otomasiautomasi, di dalam operasional industry serta menyukseskan inisiatif pemerintah yakni Making Indonesia 4.0
Dalam kesempatan yang sama setelahnya, juga telah ditunjuk Rudolf Nainggolan yang juga menjabat Direktur Utama PT. Gihon Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Gihon), sebagai Wakil Ketua Umum dan Indra Gunawan yang menjabat Direktur PT. Sarana Menara Nusantara, Tbk. (Protelindo) sebagai Sekretaris Jenderal.
Teddy Hartoko yang saat ini juga menjabat sebagai Direktur Utama PT. Dayamitra Telekomunikasi, Tbk. (Mitratel) berkomitmen akan membawa ASPIMTEL untuk lebih berperan dalam mendukung pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan infrastruktur menara telekomunikasi melalui 3 aspek.
Pertama adalah aspek bisnis, Penyedia Infratruktur khususnya tower harus segera bertransformasi menuju penyedia infrastruktur digital atau beyond tower provider. Hal ini akan menumbuhkembangkan industri infrastruktur telekomunikasi di Indonesia secara berkelanjutan;
Kedua adalah aspek regulasi, Aspimtel berkomitmen melakukan koordinasi dan komunikasi kepada Pemerintah Pusat maupun Daerah dalam pengawalan pembangunan infrastruktur dan menara telekomunikasi dengan tujuan agar pemerintah dapat menetapkan regulasi sederhana yang dapat diimplementasikan dan disosialisasikan kepada seluruh masyarakat terkait pentingnya menara telekomunikasi untuk mendukung pertumbuhan industri ekonomi digital di seluruh wilayah Indonesia;
Ketiga adalah aspek lingkungan, pengembangan dan pembangunan infratruktur harus mampu memberikan dampak positif terhadap kelestarian lingkungan diantaranya penggunaan teknologi untuk mengurangi emisi karbon (green energy) dan penggunaan material yang ramah lingkungan untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Program ASPIMTEL ke depan harus dapat memenuhi 3 aspek di atas untuk mendukung tumbuhnya industri ekonomi digital yang efisien dan merata diseluruh wilayah Indonesia”
Mitratel Tuntaskan 2022 dengan Performansi Finansial Triple Double Digit Growth
Jakarta (01/03/2023) – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) pada 2022 mencatatkan kinerja gemilang dengan membukukan triple double digit growth meliputi pendapatan senilai Rp7,72 triliun atau meningkat sebesar 12,5% dari pencapaian tahun 2021 sebesar Rp6,87 triliun, laba bersih melonjak sebesar 29,3% atau menjadi Rp1,78 triliun dari Rp1,38 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara EBITDA melonjak 18.5% menjadi Rp6.142 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp5.185 triliun.
Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, mengatakan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih perseroan yang naik dua digit ini merefleksikan keberhasilan program pengembangan bisnis organik dan inorganik, yang berdampak positif terhadap kinerja keuangan. Selain itu perusahaan juga terus fokus dalam melakukan efisiensi biaya operasional sehingga profitabilitas disisi marjin meningkat.
“Pendapatan yang tumbuh 12,5% dan laba bersih melonjak 29,3% di tahun 2022 merupakan hasil nyata dari eksekusi strategi dan rencana-rencana bisnis Mitratel. Teddy merincikan pendapatan dari segmen penyewaan menara di 2022 masih mendominasi dengan nilai Rp6,37 triliun, atau naik 17,4%. Pendapatan sewa menara ini merupakan pertumbuhan yang berkelanjutan didorong oleh menara baru (built to suit) dan kolokasi, termasuk dari hasil akuisisi menara telekomunikasi Telkomsel di Juli 2022,” ungkap Teddy.
Total penambahan menara baru yang dimiliki oleh Mitratel pada tahun 2022 adalah sebanyak 7.212 menara dan penambahan jumlah tenant (penyewa) sebesar 9.412. Dimana 6.000 menara baru tersebut datang dari proses akuisisi menara operator Telkomsel. Selain itu Mitratel juga mengembangkan jaringan fiber opticsebagai bagian penting dari ekosistem menara, dan telah memiliki fiber optic sepanjang 16.641 km, dimana 6.012 km diantaranya merupakan hasil akuisisi. Strategi organik dan aksi korporasi di tahun 2022 ini yang menjadi kontributor utama dalam pertumbuhan kinerja perusahaan.
Mitratel merupakan perusahaan menara telekomunikasi independen dengan pertumbuhan menara dan pelanggan terbesar selama periode 2017 – 2022 dibandingkan dengan kompetitor. Bahkan sejak tahun 2010-2022 CAGR untuk pertumbuhan organik adalah sebesar 45%. Selain itu, pengembangan bisnis seperti fiber optic, energy as service serta edge infra solution melengkapi usaha Mitratel untuk menjadi Digital Infraco yang memberikan layanan dan solusi terlengkap untuk semua operator telekomunikasi di Indonesia.
Mitratel juga tidak memiliki eksposur risiko fluktuasi mata uang asing, mengingat seluruh pinjaman dalam denominasi rupiah. Bahkan utang perseroan turun menjadi Rp15,29 triliun dari Rp 18,07 triliun. Alhasil, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) pada 2022 turun menjadi 0,45 kali dari sebelumnya 0,54 kali (yoy). “Mitratel tetap memiliki ruang yang cukup longgar untuk ekspansi karena DER-nya semakin turun dan ekuitas perseroan mencatatkan peningkatan 0,5% menjadi Rp. 33,808 triliun,” tutur Teddy.
Perseroan optimis prospek bisnis di tahun 2023 akan tetap mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata industri, hal ini berdasarkan strategi dan model bisnis Mitratel yang solid, dengan didukung oleh pertumbuhan organik seperti peningkatan kolokasi (tenancy ratio), dan dilengkapi aksi inorganik yang akan memacu Mitratel untuk mencatatkan pertumbuhan positif pada pendapatan maupun peningkatan laba bersih.
”Kami meyakini kinerja perseroan di tahun 2023 ini akan terus bertumbuh dengan fokus pada monetisasi aset, efisiensi biaya, dan akan semakin memperkuat kepemimpinan Mitratel di industri menara,” tutur Teddy, sapaan akrab Theodorus, di Jakarta, Selasa (7/3/2023).
“Ke depannya, beberapa langkah strategis akan terus kami lakukan. Kami akan fokus untuk memberikan solusi end to end bagi pelanggan kami seperti layanan fiber to the tower dan energy as a service. Kami juga akan lebih agresif untuk memonetisasi aset menara kami yang berjumlah lebih dari 35.400 dan tersebar di seluruh Indonesia. Kami yakin di tahun 2023 Mitratel akan tetap menjadi market leader dengan penguasaan pangsa pasar yang lebih baik dibandingkan kompetitor” tambah Teddy.
Mitratel akan terus menjaga pertumbuhan dan fundamental perusahaan dengan menjadi perusahaan menara telekomunikasi yang unggul baik dari sisi kinerja operasional maupun keuangan. Perseroan berkeyakinan mampu melanjutkan momentum pertumbuhan di tahun 2023 ini dengan tumbuh double digit, atau jauh di atas industri yang diperkirakan hanya tumbuh dikisaran 4%. Pertumbuhan Perseroan akan dicapai melalui agresivitas kegiatan organik, inorganik, dan pengembangan bisnis lainnya untuk memberikan layanan terbaik kepada seluruh operator dalam mengembangkan jaringan telekomunikasi, menuju Digital Infrastructure Company.***
Mitratel Concludes 2022 with Triple Double-Digit Growth Financial Performance
Jakarta (03/01/2023) – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) in 2022 recorded remarkable performance, with triple double-digit growth. The company recorded a revenue worth IDR 7.72 trillion or increase 12.5% from the previous year’s IDR 6.87 trillion. Net profit rose by 29.3% to IDR 1.78 trillion from IDR 1.38 trillion in the previous year. Meanwhile, EBITDA rose 18.5% to IDR 6,142 trillion from the previous year’s IDR 5,185 trillion.
Mitratel’s President Director, Theodorus Ardi Hartoko, said that the company’s double-digit revenue and net profit growth reflected the success of its organic and inorganic business development programs, which crucially influences its financial performance. Apart from that, the company also continues to focus on operational cost efficiency to reinforce margin profitability.
“12.5% revenue growth and 29.3% rise in net profit in 2022 emphasizes Mitratel’s successful execution of its strategy and business plans. Teddy elaborated that revenue from the tower rental segment in 2022 will still dominate with a value of IDR 6.37 trillion. This tower rental income signifies sustainable growth driven by new towers (built to suit) and colocation, including those from the acquisition of Telkomsel’s tower in July 2022,” said Teddy.
In 2022, Mitratel managed to add 7,212 new towers to its portfolio as well as acquiring 9,412 new tenants. The 6,000 new towers came from the Telkomsel’s tower acquisition. Apart from that, Mitratel is also developing its fiber optic network as a crucial component of the tower ecosystem, totaling 16,641 km of fiber optic, with 6,012 km attained through acquisitions. Organic strategies and corporate actions in 2022 will be the crucial contributors to the company’s performance growth.
Mitratel is an independent telecommunications tower company with the largest growth in towers and subscribers among its competitors from 2017-2022. In fact, its organic growth for CAGR soared by 45% from 2010 to 2022. Apart from that, Mitratel’s business development such as fiber optic, energy-as-service, and edge infra solutions complement its efforts to evolve into a Digital Infraco. This transformation offers the most comprehensive services and solutions to all telecommunications operators in Indonesia.
Mitratel also has no exposure to the risk of foreign currency fluctuations, considering that all loans are denominated in rupiah. Furthermore, the company’s debt even fell to IDR 15.29 trillion from IDR 18.07 trillion. As a result, the debt-to-equity ratio (DER) in 2022 will fall to 0.45 times from 0.54 times in the preceding year (yoy). “Mitratel still has ample room for expansion as demonstrated by the continued decline in its DER and 0.5% rise in the company’s equity to IDR 33.808 trillion,” said Teddy.
The company remains confident about the industry growth averages in 2023, in reliance on Mitratel’s solid strategy and business model, supported by organic growth such as increasing collocation (tenancy ratio), and complemented by inorganic actions that will drive Mitratel’s positive revenue growth and increase in net profit.
“We believe that the company’s performance in 2023 will continue to grow, emphasizing asset monetization, cost efficiency, and impactful Mitratel’s leadership in the tower industry,” said Teddy, Theodorus’ nickname, in Jakarta, Tuesday (3/7/2023).
“In the future, we plan to take several strategic initiatives. Our primary focus will be on providing end-to-end solutions for our customers such as fiber-to-the tower and energy-as-a-service. Moreover, we plan to adopt a more assertive approach in monetizing our tower assets, exceeding 35,400 locations throughout Indonesia. “We are confident that Mitratel will maintain its position as the market leader in 2023 with a better market share control compared to competitors,” added Teddy.
Mitratel will continue to maintain the company’s growth and fundamentals by reinforcing its position as a premier telecommunications tower company, dominating both operational and financial performance. The company anticipates its growth momentum in 2023 with double-digit growth, surpassing the industry’s estimated growth rate of around 4%. The company’s growth will be achieved through aggressive organic, inorganic, and other business expansion to offer the best service to all operators in developing telecommunications networks, advancing towards its vision as a Digital Infrastructure Company.
Finalizing Acquisition Transaction, Mitratel Adds 997 Towers, Opens Wide Opportunities for All Operators
Jakarta (01/03/2023) – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (Mitratel) acquired a telecommunications tower under PT Indosat Ooredoo Hutchison (“IOH”). The purchase of this tower will further strengthen Mitratel’s business fundamentals and increase growth potential in the long term.
Mitratel has signed a sales and purchase agreement (SPA) with PT Indosat Ooredoo Hutchison on March 1, 2023, for the purchase of 997 towers with a total value of IDR 1,648,400,000,000 or one trillion six hundred forty eight billion four hundred million rupiah.
Teddy Hartoko, President Director of Mitratel, stated that this corporate initiative is Mitratel’s strategy and commitment to strengthen its fundamentals while providing enhanced value for all Mobile Network Operators (MNOs). In addition, this action highlights Mitratel’s efforts to evolve into an end-to-end Digital Infrastructure Company. “This initiative is an opportunity for Mitratel to swiftly acquire telecommunications tower assets with specifications and strategic locations. Accordingly, the collocation potential for all MNOs will open up even wider, along with the comprehensive end-to-end solutions we offer such as fiber-to-the-tower and energy-as-a-service, we believe Mitratel can provide enhanced value for companies and MNOs.”
Teddy said, in 2023 Mitratel’s primary focus will be on asset monetization through increasing colocation. As an Independent Tower Provider, Mitratel will continue to aggressively monetize its assets through orders from all MNOs as their network expands, including outside Java. The upsurge in colocation demand from MNOs will certainly influence the growth of the Tenancy Ratio which in turn elevates the company’s profitability.
As of the Q3-2022, Mitratel possesses over 35 thousand telecommunications towers distributed across all cities and districts in Indonesia. These towers are distributed with 42% located on the island of Java and 58% located outside the island of Java, bolstering Mitratel’s presence as the most powerful owner of telecommunications towers in Southeast Asia.
In the future, Mitratel and IOH are committed to continuing to support each other’s business and service development through several collaborations following this tower sale and purchase agreement.
Tuntaskan Transaksi Akuisisi, Mitratel Tambah 997 Menara, Buka Lebar Peluang Untuk Semua Operator
Jakarta (01/03/2023) – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) mengakuisisi menara telekomunikasi milik PT Indosat Ooredoo Hutchison (“IOH”). Pembelian menara ini akan semakin memperkuat fundamental bisnis Mitratel serta meningkatkan potensi pertumbuhan dalam jangka panjang.
Mitratel telah melakukan penandatanganan perjanjian jual beli (Sales and Purchase Agreement / SPA) dengan PT Indosat Ooredoo Hutchison pada 1 Maret 2023 untuk pembelian 997 menara dengan total nilai sebesar Rp. 1.648.400.000.000 atau satu triliun enam ratus empat puluh delapan miliar empat ratus juta rupiah.
Direktur Utama Mitratel Teddy Hartoko mengatakan, aksi korporasi ini merupakan salah satu bentuk strategi dan komitmen Mitratel untuk memperkuat fundamental sekaligus memberikan nilai tambah bagi seluruh Mobile Network Operator (MNO) dan usaha untuk menjadi end to end Digital Infrastructure Company. ”Aksi ini merupakan kesempatan bagi Mitratel untuk mendapatkan aset menara telekomunikasi dengan spesifikasi dan lokasi yang strategis dalam rentang waktu yang singkat. Dengan demikian potensi kolokasi untuk seluruh MNO akan terbuka semakin luas. Ditambah dengan solusi end to end yang kami tawarkan seperti fiber to the tower dan energy as a service, kami yakin Mitratel dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan MNO.”
Teddy menuturkan, tahun 2023 Mitratel akan fokus untuk monetisasi aset melalui peningkatan kolokasi. Mitratel sebagai Tower Provider Independen akan terus agresif memonetisasi asetnya melalui order dari seluruh MNO seiring ekspansi jaringan MNO termasuk di luar Jawa. Peningkatan permintaan kolokasi dari MNO tentunya akan berdampak pada tumbuhnya Tenancy Ratio yang pada gilirannya meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Per 9M2022 Mitratel memiliki lebih dari 35 ribu menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh kota dan kabupaten di Indonesia dengan komposisi 42% yang berada di Pulau Jawa, dan 58% berada diluar pulau Jawa dan menjadikan Mitratel sebagai pemilik menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.
Kedepannya, Mitratel dan IOH berkomitmen untuk terus saling mendukung pengembangan bisnis dan layanan melalui beberapa kerjasama yang mengikuti perjanjian jual beli menara ini.
***
Mitratel Akuisisi Tower Indosat, Peluang Operator Expansi Jaringan semakin Terbuka
JAKARTA-PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL)/Mitratel dan Indosat Ooredoo Hutchison(IOH) menandatangani perjanjian penjualan bersyarat (Conditional Sales PurchaseAgreement/CSPA) menara telekomunikasi milik IOH sebanyak 997 menara telekomunikasi.Aksi korporasi perseroan ini akan menambah aset dan tenant Mitratel, antara lain IOH danpenyewa Menara dari mitra bisnis lainnya. Adapun, transaksi antara Mitratel dan IOH itudiproyeksikan rampung pada kuartal I/2023.
Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko menuturkan kolaborasi ini dapat memperkuatdan memantapkan posisi MTEL sebagai pemilik menara telekomunikasi terbesar di AsiaTenggara yang independent dan terpercaya. Teddy, demikian sapaan akrabnya, mengapresiasi kolaborasi perseroan dengan IOH. “Kerjasama ini memperkokoh Mitratel sebagai pemilikmenara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.
Penambahan sebanyak 997 menaratelekomunikasi ini memperkuat ekosistem Mitratel di bisnis menara telekomunikasi sertamenciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi seluruh operator telekomunikasi serta mengakselerasi peluang pertumbuhan kolokasi menara Mitratel serta menyokongserangkaian usaha Mitratel untuk pengembangan bisnis menjadi end-to-end DigitalInfrastructure Company. Dan tidak kalah pentingnya adalah bahwa akuisisi juga merupakan penegasan bahwa Mitratel adalah perusahaan penyedia Menara yang independent dan sangat dipercaya oleh operator seluler di Indonesia ,” ujar Teddy di Jakarta, Sabtu (18/2/2023).
Kesepakatan tersebut diyakini memberikan manfaat untuk pertumbuhan bisnis berkelanjutanuntuk Mitratel dan IOH. “Mitratel berupaya menjadi perusahaan yang berorientasi padaLeading Sustainable Growth. Perjanjian CSPA dengan IOH melanjutkan pertumbuhananorganik di tahun-tahun sebelumnya,” ucap Teddy.
Pada 2022, misalnya, Mitratel mengakuisisi menara telekomunikasi sebanyak 6.088 unit dan6.012 kilometer (km) fiber optic. Akuisisi ini merupakan usaha Mitratel untuk memantapkan posisi sebagai konsolidator infrastruktur telekomunikasi (menara dan fiber) utama di Indonesia.
Sejalan dengan akuisisi menara, MTEL juga menjalankan program peningkatan tenancy ratio melalui penyediaan konektivitas berkapasitas tinggi dengan penggelaran fiber optic danlayanan satelit, serta penyediaan daya (power to tower) yang akan memberikan dukunganpenuh kepada operator telekomunikasi.
Kedepan, pertumbuhan pendapatan Mitratel diyakini akan tumbuh di atas rata-rata industri dengan adanya aksi korporasi akusisi ini yang dibarengi dengan peningkatan tenancy ratio. Perseroan juga meyakini tingkat profitabilitas yaitu margin EBITDA kian meningkat seiringpeluang pertumbuhan kolokasi menara.
Secara konsolidasi, Mitratel pada Sembilan Bulan pertama 2022 mencetak margin EBITDAsebesar 78,5%, atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 75,7%. Bahkan margin EBITDAdari segmen penyewaan menara telekomunikasi tercatat sebesar 85.2%.
Lebih lanjut Teddy menjelaskan, akuisisi ini merupakan kesempatan yang baik untukmendapatkan ratusan aset menara telekomunikasi dengan spesifikasi dan lokasi strategisdalam rentang waktu yang cukup singkat yang tidak dapat dicapai dengan pengembanganorganik.
“Fokus Mitratel bergerak untuk meningkatkan fundamental melalui monetisasi aset. Mitratel sebagai Tower Provider akan terus agresif memonetisasi asetnya sehingga membuka peluang pertumbuhan bisnis di masa mendatang,” imbuh Teddy







